Batad Rice Terraces, sawah berundak tertua sedunia (Sastri/detikTravel)
Banaue - Mau tahu asal usul dari sawah berundak di Indonesia? Datanglah ke Banaue di North Luzon, Filipina. Di sinilah terdapat sawah berundak tertua sedunia, berumur lebih dari 2.000 tahun.
Layaknya negara-negara Indochina, mayoritas peradaban di Asia Tenggara muncul dari migrasi warga Yunnan di China ribuan tahun silam. Mereka berdiaspora, membangun kehidupan di berbagai negara termasuk Filipina.
Hingga akhirnya tibalah mereka tiba di kota kecil Banaue, North Luzon. Di sini mereka mengukir sejarah dengan tradisi mengukir kayu dan tanah. Merekalah yang membuat sawah berundak pertama di dunia. Mereka adalah Suku Ifugao.
detikTravel berkunjung ke kota mungil nan dingin Banaue beberapa waktu lalu, tepat saat Topan Haiyan mengamuk di negara kepulauan tersebut. Meski menyerang wilayah selatan Filipina, Haiyan rupanya berpengaruh sampai Banaue. Hujan tak berhenti dua hari lamanya. Membuat udara semakin menggigit tulang.
Suhu waktu itu berkisar 16-18 derajat Celcius. Dari jendela penginapan, terhampar undakan sawah bak tangga berkarpet hijau terbentang dari atas gunung. Namun sebelum pesawahan di Banaue, suku Ifugao lebih dulu membuat undakan sawah di Batad. Jaraknya sekitar 12 Km dari Banaue.
Saya menyewa tricycle, transportasi khas Filipina seperti becak motor. Sekitar 20 menit perjalanan, dilanjutkan jalan kaki mendaki bukit sekitar 1 jam, saya tiba di pintu masuk Batad Rice Terraces.
Pintu masuk Batad Rice Terraces persis terdapat di sebelah warung yang menjajakan makanan dan suvenir. Tapi, memasuki kawasan Batad Rice Terraces tak semudah itu. Pintu masuk itu hanya berupa jalan setapak, turunan terjal menuju lembah yang dikelilingi sawah berumur 2.000 tahun.
Saya pun menghabiskan 3-4 jam trekking menuruni lembah. Mengikuti arah jalan setapak, melewati beberapa air terjun kecil yang airnya jernih dan segar. Hujan mulai mengguyur. Beberapa turis asing, basah kuyup akibat hujan dan peluh, melintas ke arah berlawanan sambil senyum dan menegur sapa.
'If you travel, get lost'. Saya sempat tersasar beberapa kali secara tidak sengaja. Di tengah lembah, seorang diri, diguyur hujan, mencari jalan setapak yang benar. Dibantu warga lokal yang dengan senang hati menuntun arah, saya sampai di Batad Tourist Center.
Liliana, begitu nama petugas yang tersenyum dengan ramah, adalah keturunan asli Ifugao. Dia sangat sumringah begitu mendapati turis Indonesia datang ke tanah leluhurnya. Saat mengisi buku tamu, memang tak ada seorang pun turis Indonesia. Mayoritas datang dari Eropa: Prancis, Slovenia, Polandia, Belanda, Israel, atau turis domestik asal Filipina.
Sudah pukul 12.00 waktu setempat dan perut saya keroncongan. Tepat di dekat Tourist Information Center terdapat beberapa penginapan yang merangkap restoran sederhana. Pemilik penginapan di Banaue menyarankan saya berkunjung ke Rita's Hillside Inn and Restaurant. Sepiring roti Charpati lengkap dengan tomat dan keju pun saya lahap habis, sambil mengobrol hangat dengan Rita sang pemilik penginapan yang berparas manis.
Dari restoran milik Rita, Batad Rice Terraces terhampar di depan mata. Suku Ifugao benar-benar pintar mengukir Pegunungan Coldillera menjadi karya seni yang luar biasa megah. Berumur sekitar 2.000 tahun, Batad Rice Terraces menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1995.
Dulu Ifugao adalah 'headhunter', suku yang sering berperang dan punya tradisi memenggal kepala musuh. Di saat bersamaan mereka adalah pemahat kayu yang sangat handal, sama handalnya dengan cara mereka memahat perbukitan.
Keturunan Suku Ifugao masih mendiami tanah leluhur mereka. Liliana dan Rita adalah dua di antaranya, menyambut tiap turis dengan tangan terbuka. Usai makan, saya menghabiskan 5 jam selanjutnya trekking di antara undakan sawah tersebut dipandu seorang pria asli Ifugao.
Meski hujan mengguyur dan kabut senantiasa menggantung di puncak-puncak bukit, pemandangan Batad Rice Terraces sungguh menghipnosis. Terlebih lagi, ada fakta menyenangkan yang saya temukan di Banaue Museum keesokan harinya.
Setelah mengukir bukit menjadi undakan sawah, sebagian dari orang Ifugao bermigrasi ke selatan. Mereka menduduki kawasan selatan Filipina kemudian terus turun, sampai ke Jawa dan Kepulauan Sunda Kecil. Di sinilah, Nusantara, mereka meneruskan keahlian membuat undakan sawah.